All posts by Redaksi

Demokrat Tolak Silaturahim AHY-Ibas Dikaitkan ke Kubu 01

Jakarta – Kedua anak presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mengunjungi sejumlah tokoh nasional dalam momen Lebaran. Beberapa tokoh yang dikunjungi antara lain Presiden Jokowi, BJ Habibie, Megawati Soekarnoputri dan Sinta Nuriyah Wahid (istri Gus Dur).

Beberapa yang disebut merupakan tokoh dari capres -cawapres nomor urut 01. Namun, Partai Demokrat membantah bahwa Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Eddie Baskoro Yudhoyono (Ibas) hanya mengunjungi tokoh-tokoh 01, meskipun menegaskan adanya kemungkinan tidak mengunjungi capres no 02, Prabowo Subianto.

“Jika ada pandangan bahwa itu kunjungan ke tokoh-tokoh pendukung 01 ya saya harus sebut itu pandangan ngawur,” ujar Wasekjen Demokrat, Renanda Bachtar kepada Republika.co.id, Sabtu (8/6).

Menurut Renanda, kunjungan-kunjungan selain silaturahim dan halal bi halal, juga dimaksudkan sebagai kunjungan balasan penghormatan keluarga SBY kepada para pemimpin senior yang telah berkenan menghadiri upacara pemakaman Ibu Ani Yudhoyono pada 1 Juni lalu.

Sementara bagi yang berkunjung ke Cikeas, Renanda mengatakan kedua anak SBY tidak berencana balik mengunjungi para tokoh yang hadir ke kediaman SBY tersebut. “Pak Prabowo tidak ke pemakaman. Bagi yang datang ke Cikeas seperti Pak Prabowo atau Ibu Rachmawati masa iya harus balik dikunjungi,” katanya.

Sumber : Republika

Pileg dan Pilpres Kondusif, KMP Ajak Jaga Persatuan

Tanjungpinang – Pelaksanaan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden tahun 2019 berjalan dengan kondusif. Hajatan 5 tahunan ini, sebagai bentuk peralihan kekuasaan dengan sistem demokrasi telah mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang semakin dewasa dalam berdempkrasi. Akan hal itu, Komunitas Merah Putih Kepulauan Riau mengelar seminar dengan tema Kondusifitas Pileg dan Pilpres 2019, Kedewasaan Demokrasi Indonesia.

Kegiatan dilaksanakan di Tanjungpinang (23/5), dihadiri narasumber dari KPU Kepulauan Riau, Bawaslu Kepulauan Riau, Polda Kepulauan Riau dan akademisi.

Suprapto, Ketua Komunitas Merah Putih Kepulauan Riau mengharapkan proses dan tahapan pemilu pada 17 April 2019 yang telah dilalui, mampu menghasilkan pemimpin yang kompeten dan wakil rakyat yang dapat menyalurkan aspirasi-aspirasi rakyat dari berbagai tingkatan baik DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi serta DPRD Kabupaten/Kota.

“Kewajiban kita telah tertunaikan pda 17 April, saat ini kita mengharapkan kerja dari calon-calon wakil kita untuk benar-benar mengabdi kepada negara,” katanya.

Ia juga mengapresiasi kepada KPU, Bawaslu dan Kepolisian, karena jalannya tahapan yang berjalan dengan lancar.

“apresiasi terhadap perjalanan demokrasi di Kepulauan Riau sekaligus berterima kasih kepada penyelenggara pemilu dan pihak-pihak terkait lainnya yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan pemilu di Kepri dan berjalan sesuai harapan,” katanya.

Suprapto yang juga mantan presiden BEM Politeknik Batam itu mengatakan bahwa, jika ada hal-hal yang dianggap menyalahi aturan dan tidak terima dari hasil Pemilu baik Pileg mapun Pilpres, maka telah ada wadah penyalurannya.

“Jika ada yang kurang puas, maka ada mekanisme yaitu gugatan ke MK. Tidak malah memprovokasi masyarakat untuk tidak percaya dengan hasil Pileg dan Pilpres,” katanya.

Mengapa Parpol Islam Kian Pede?

Hasil hitung cepat pilkada serentak 2018 meningkatkan kepercayaan diri parpol-parpol berbasis massa Islam menjelang Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden 2019. Fenomena di berbagai daerah pemilihan disebut menunjukkan relevansi basis pemilih Muslim, figur Islami, dan militansi mesin partai parpol Islam.

“Saya tidak mau kegeeran itu (hasil pilkada) menaikan posisi tawar. Tapi, itu menaikkan kepercayaan kami. Kami ini harus dihitunglah secara proporsional, baik oleh Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) maupun juga koalisi partai yang lain,” ujar Arsul di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (28/6).

Hal itu ia sampaikan terkait hitung cepat yang menempatkan sejumlah kader PPP di posisi unggul. Di Jawa Tengah, calon gubernur Ganjar Pranowo yang unggul pada hitung cepat didampingi figur politikus PPP Taj Yasin yang juga merupakan putra ulama karismatik KH Maimoen Zubair.

Di Jawa Barat, politikus PPP Uu Ruzhanul Ulum yang maju sebagai calon wakil gubernur juga unggul bersama pasangannya, Ridwan Kamil. Calon gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji yang merupakan kader PPP juga unggul merujuk hitung cepat.

Menurut Arsul, pihak-pihak yang nantinya hendak berlaga di Pemilu 2019, termasuk Jokowi, mau tak mau harus mencermati peran sosok-sosok yang agamis dan religius tersebut. “Pemilih di tiga wilayah di Pulau Jawa ini menghendaki sosok yang agamis, paling tidak dalam salah satu dalam posisinya gubernur dan wagub. Namun, sosok agamis yang juga berjiwa nasionalis,” ungkap Arsul.

Di antara 17 pemilihan gubernur, PAN mengklaim 10 pasangan calon yang mereka dukung sejauh ini unggul dalam hitung cepat. Selain itu, kader PAN seperti calon gubernur Riau Syamsuar serta yang dipelopori pencalonannya seperti calon gubernur Sumatra Selatan Herman Deru juga unggul. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan mengatakan, kemenangan kader yang didukung PAN berdasarkan aspirasi warga menunjukkan kekuatan umat Islam memang berpengaruh dalam pilkada.

“Fenomena perkembangan pilkada ini memang trennya pengaruh ulama itu luar biasa. Jadi, itu kombinasi antarkerja-kerja partai dan ulama dan pesan moral para ulama, itu pengaruhnya luar biasa,” ujar Zulkifli, kemarin.

Hasil-hasil tersebut, menurut Zulkifli, membuat PAN semakin mantap menatap pemilu tahun depan. Raihan itu juga akan menjadi pertimbangan utama PAN terkait siapa yang dijagokan pada Pilpres 2019. “Harus jadi pertimbangan yang sangat kuat. Karena pengaruhnya besar. Jadi, kombinasinya itu, pertama, kandidat harus diinginkan masyarakat, tentu juga harus didukung ulama, juga parpol harus bekerja secara keras,” kata Zulkifli.

Moncernya suara kekuatan pemilih Islam, menurut Wakil Sekretaris Jenderal PKB Jazilil Fawaid, juga kentara di Pilkada Jawa Timur 2018. Meski PKB tak berhasil memenangkan calon yang mereka usung, Jazilil meyakini basis pemilih masih kokoh.

“Jadi, apa yang terjadi di Jawa Timur hari ini membuktikan Jawa Timur basis dari kalangan Islam, Ahlussunah atau NU, atau Islam rahmatan lil “‘alamin yang sesuai dengan visi PKB,” kata Jazilil.

Hal itu membuatnya meyakini PKB akan tetap memiliki daya tawar yang kuat menjelang Pileg dan Pilpres 2019.

PKS pada pilkada serentak kali ini belum mengeluarkan penyataan soal hasil yang mereka peroleh. Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman masih terus mengingatkan kader parpol itu untuk meningkatkan kewaspadaan mengawal hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2018.

“Terus kawal hasil sementara pilkada ini sebaik-baiknya hingga perhitungan resmi KPU tuntas dilaksanakan,” kata Sohibul Iman dalam pernyataannya di Jakarta, kemarin.

Menurut Sohibul Iman, berdasarkan hitung sementara, saat ini PKS memenangkan hampir separuh dari 17 pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Untuk itu, ia mengharapkan para kader dan simpatisan parpol tersebut juga dapat terus berjuang dan bekerja keras untuk meraih kemenangan-kemenangan berikutnya. Presiden PKS menuturkan, semua jerih payah pengorbanan dan kontribusi dari para kader akan bernilai ibadah.

Seruan tersebut mengindikasikan pentingnya peran kader dan mesin partai PKS dalam pilkada kali ini. Hal tersebut diamini sejumlah pengamat, utamanya terkait Pilkada Jawa Barat 2018.

Militansi kader PKS disebut mampu mendongkrak perolehan suara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu dari satu digit pada survei sebelum pilkada hingga mencapai 29 persen pada hitung cepat.

Faktor figur politikus Islam

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Ikrama Masloman menilai mendominasinya kemenangan partai berbasis Islam di pilkada serentak 2018 kali ini tidak disebabkan oleh faktor ideologi partai. Menurut dia, kemenangan partai-partai berbasis Islam tersebut dipengaruhi faktor figur calon kepala daerah.

“Kalau saya lihat bukan karena basis ideologi partai, melainkan figur karena memang di beberapa daerah yang menang itu komposisinya itu seperti di Maluku komposisi partai nasionalis dan Islam, kemudian di Jawa Timur, kalau di Jawa Barat kan PPP, juga figur,” kata Ikrama, Kamis (28/6).

Ikrama menilai yang lebih tepat justru bagaimana figur-figur tersebut menguntungkan partai. Merujuk kepada hasil pilkada di Sumut, Ikrama menilai hal itu membuktikan bahwa faktor ideologi partai tidak menjadi satu-satunya faktor kemenangan.

“Menurut saya, lebih kepada keberhasilan kandidat dalam meramu berbagai sentimen. Di Maluku, yang dibangun adalah sentimen gubernur baru. Artinya, pemerintah hari ini gagal merupakan narasi besarnya dan butuh gubernur baru. Gubernur baru terasosiasi ke Pak Murad Ismail yang sekarang menang,” katanya.

Di Sumut, lanjut Ikrama, sentimen primordial menjadi yang paling kuat, begitu juga di Kalimantan Barat yang begitu kental dualisme antara sentimen etnis dayak dan yang di luar dayak. Ia menilai banyaknya kejutan di dalam hasil pilkada 2018 kali ini disebabkan adanya migrasi suara yang terjadi pada 10 hari terakhir.

Sumber : Republika