• September 29, 2020

Malaysia Kembali Hina Pemimpin Indonesia

Nasional, Isukepri.com – Mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainudin Maidin, memberikan gambaran negatif soal Presiden Indonesia ketiga, Baharuddin Jusuf Habibie. Dalam tajuk rencana Harian Utusan Malaysia, edisi Senin 10 Desember 2012, Zainuddin menggambarkan Habibie sebagai sosok egois, memualkan, serta pengkhianat bangsa.

Memulai tulisannya, Menteri Penerangan di era Abdullah Badawi ini mengulas kedatangan B.J. Habibie ke Malaysia beberapa hari lalu.
“Presiden Indonesia ketiga, B.J. Habibie, yang mencatatkan sejarah sebagai Presiden Indonesia paling tersingkat, tersingkir kerana mengkhianati negaranya. Telah menjadi tamu kehormatan Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim baru-baru ini,” tulis Zainudin di halaman 6 Utusan Malaysia.

Dalam tulisan selanjutnya, Zainudin lebih banyak menceritakan beberapa sisi negatif Habibie selama menjadi Presiden Indonesia. Sisi negatif tersebut, mulai peran Habibie yang menyebabkan Timor-Timur terlepas dari NKRI hingga perpecahan politik yang menyebabkan tumbuhnya 48 partai politik di Indonesia.
“Beliau mengakhiri jabatannya dalam kehinaan setelah menjadi presiden sejak 20 Oktober 1999,” ujarnya.

Menurutnya, hal yang paling memualkan dari Habibie adalah sifat egoisnya. Ia menceritakan bagaimana dirinya, pejabat tinggi Malaysia, dan Perdana Menteri Mahathir Muhammad kala itu harus menunggu sekitar dua jam. Sebab, Habibie terlambat datang untuk memberikan ceramah pada salah satu perguruan tinggi di Malaysia. Saat tiba, ternyata Habibie hanya menyampaikan pidato yang bertele-tele.
“Ucapannya yang penuh dengan keegoan begitu panjang hingga ke peringkat memualkan hadirin,” tulis Zainudin.

Atas undangan Universiti Selangor (Unisel), B.J. Habibie memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa, cendekiawan, dan tokoh politik pada Kamis 6 Desember 2012. Dalam ceramah berjudul “Habibie dan Transisi Indonesia ke Demokrasi mantan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini menceritakan pengalaman Indonesia dalam menjaga keragaman. Menurut Habibie, pluralisme kepercayaan, suku, adat, dan keragaman lainnya merupakan kekuatan, bukan menjadi ancaman bangsa.

Habibie mencontohkan, walaupun penduduk Indonesia sebagian besar suku Jawa, bahasa nasional yang digunakan berasal dari bahasa Melayu. Beberapa pihak menyatakan, bahasa Melayu menjadi lingua franca karena posisinya sebagai bahasa perdagangan. Namun, menurut Habibie, bahasa Melayu juga digunakan karena kebudayaan Melayu telah ada sejak lama.

Bisa jadi kegeraman Zainudin dipicu kekhawatiran kalau Habibie—yang di Indonesia dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam transisi demokrasi—membawa virus reformasi ke Malaysia. (tempo)

0 Reviews

Write a Review

suprapto

Read Previous

AKBP Patar Gunawan Aritonang Gantikan Suhendri

Read Next

ANTARA Kepri Hijaukan Pulau Tapal Batas NKRI