Kebutuhan Hewan Kurban di Batam 7.000 Ekor

Pemerintah Kota Batam Kepulauan Riau mencatat daerah setempat membutuhkan sekitar 7.000 ekor hewan kurban dalam ibadah Idul Adha.

“Kebutuhannya 1.500 sampai 2000 ekor sapi dan 5.000 ekor kambing,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam, Mardanis di Batam, Rabu.

Menurut dia, hampir seluruh kebutuhan hewan kurban dipasok dari luar kota, mengingat terbatasnya lahan peternakan di sana.

“Boleh dikatakan dari lokal tidak ada,” kata dia.

Hewan kurban untuk Batam didatangkan dari Pulau Jawa, beberapa daerah di Pulau Sumatera yaitu Lampung dan Sumbar, juga Pulau Bali.

Sebelum dapat masuk ke Batam, seluruh hewan kurban harus dilengkapi hasil uji laboratorium demi memastikan hewan itu bebas dari berbagai penyakit berbahaya.

“Mereka harus ada uji lab, surat kesehatan dari daerah asal, izin memasukkan dari Pemkot Batam, surat pelepasan dari Karantina Batam. Ini diatur dalam Perda no.2 tahun 2019,” kata dia.

Menurut dia, pedagang sudah mulai memasukkan hewan kurban sejak beberapa waktu lalu. Ada yang sudah mengantongi izin dari Pemkot, dan beberapa di antaranya masih mengurus izin dan belum mendapatkan izin.

Pemasok hewan kurban, kata dia, tergabung dalam asosiasi pedagang hewan Kota Batam, jumlahya mencapai sekitar 30 pedagang.

Ia melanjutkan, setelah sampai Batam, maka petugas akan memeriksa kesehatan setiap hewan.

“Cek kesehatannya waktu turun ada 2 tahap, sebelum hewan dipotong, kita cek secara kasat mata dan saat dipotong cek organ-organnya,” kata dia.

Sementara itu, Pemkot Batam sempat menolak 61 ekor sapi kurban yang masuk dari Kuala Tungkal, Riau, karena tidak dilengkapi hasil uji laboratorium bebas virus Jembrana. Seluruh sapi itu dikembalikan ke daerah asal.

Mardanis mengatakan, pemerintah sangat ketat dalam menangani virus Jembrana, karena menular dan bisa membahayakan hewan kurban lainnya.

“Untuk manusia tidak membahayakan, tapi kepada sapi lain, iya. Bisa terkena semuanya nanti,” kata dia.

Karenanya, pemerintah tidak akan mengizinkan sapi yang tidak memiliki sertifikat bebas Virus Jembrana dari laboratorium untuk memasuki wilayah Batam.

Virus Jembrana, menyebabkan hewan mengalami demam tinggi hingga menyebabkan kematian mendadak. Virus itu juga mudah menular pada sapi.

Sumber : Antara