• September 22, 2021

Peringati Maulid Nabi, FPP Kepri Gelar Dialog Keagamaan

Batam, IsuKepri.com – Semepena memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H, Forum Pemberdayaan Pesantren (FPP) Provinsi Kepulauan Riau mengadakan dialog keagamaan dengan tema “Pendidikan instrumen membangun peradaban Indonesia” yang dilaksanakan di Masjid Pesantren Al – Kautsar Batam Punggur, Kota Batam, pada Sabtu (10/1) pagi.

Ketua pelaksanan kegiatan, Sopian mengatakan, Maulid Nabi jangan dianggap hanya sekedar seremonial belaka, di bulan Rabiul Awal ini mayoritas umat Islam berlomba – lomba melaksanakan acara peringatan Maulid Nabi.

Tentu merupakan hal yang positif jika melihatnya dari perspektif share of value terhadap suri tauladan kita sepanjang masa baginda Rasulullah SAW, namun akan menjadi negatif jika kegiatan – kegiatan seperti ini hanya dianggap sekedar seremonial yang sifatnya untuk menggugurkan rutinitas belaka, ucap Sopian.

Ia menyampaikan, demoralisasi dan fenomena generasi muda saat ini disebabkan rendahnya kesadaran dan pola pendidikan dari lingkungan yang semakin menjauh dari Al – Qur”‘an dan Hadits.

Sehingga, harapan kita akan kemajuan bangsa masih menjadi sebatas angan – angan jika sektor pendidikan ini tidak diperbaiki dan dilakukan perubahan paradigma tentang pendidikan karakter berbasis moral – moral. Inilah yang akan kita kaji dalam dialog kali ini,” katanya.

Sementara, Ustadz Deny Purnama selaku Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Pondok Pesantren Al – Kautsar menyampaikan, pendidikan di pesantren ini tidak jauh berbeda dengan standar yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan.

Bahkan pola kegiatan belajar mengajarnyapun berbasis teknologi, dimana santri – santri disini disediakan Wi – fi dan laptop untuk menunjang pola pendidikan, terutama dalam hal mencari referensi yang relevan dengan mata pelajarannya,” paparnya.

Ustad Deni menambahkan, untuk memperoleh output yang baik maka pola pembinaan SDM yang harus ditingkatkan adalah proses penyadaran terhadap anak didik, tidak lagi proses pemaksaan sehingga hasil anak didik lebih berkualitas dengan pola pikir yang telah sadar akan tanggungjawabnya kelak, Agama dan teknologi harus dikuasai seimbang dan harus terus ditingkatkan demi masa depan yang lebih baik.

“Kamipun mengucapkan terimakasih kepada FPP Kepri, Media Portal Isukepri.Com, narasumber dan undangan yang berasal dari lingkungan eksternal pesantren. Sehingga, terbangun suasana dialog yang dinamis tentang pendidikan terutama metodelogi meneladani akhlak Rasulullah SAW dikalangan generasi muda saat ini,” ujarnya.

Dalam dialog itu juga, turut hadir narasumbr dari berbagai tokoh yakni Arifuddin Djalil Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Provinsi Kepulauan Riau yang juga menjabat Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah Provinsi Kepulauan Riau, hadir juga Ustad Maryono Pengurus Wilayah Nahdathul Ulama (PWNU) Kepulauan Riau, serta Ahmad Yani dari kalangan akademisi.

Arifuddin menyampaikan, fenomena dikalangan generasi muda saat ini terjadi karena tidak lagi mengenal sosok baginda Rasulullah SAW sebagai suri tauladan, jika ditanya siapa tokoh favoritnya, maka mayoritas akan menjawab nyeleneh tergantung seberapa sering tokoh tersebut tampil di televise. Kemajuan teknologi juga seperti dua sisi mata pisau yang jika tidak digunakan dengan bijak akan menjerumuskan kepada proses pembinaan yang salah.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri tauladan bagi kalangan yang ingin mencari sosok teladan dan dapat diaplikasikan ke dalam kurikulum, maka melalui pendidikan sejak usia dini, seharusnya pelajaran agama mendapatkan porsi yang seimbang dengan pelajaran lainnya, sehingga aspek moralitas dalam pendidikan kita mendapatkan tempat untuk bergerak membina anak – anak kita,” ujarnya.

Selain itu, Ahmad Yani memaparkan, kunci untuk majunya sebuah bangsa adalah pendidikan, dimana aspek transfer of knowledge dan transfer of values harus diperhatikan. Tidak lagi menganggap peserta didik sebagai objek, tetapi harus dilibatkan lebih besar dalam proses belajar mengajar sebagai subjek yang ingin dikembangkan potensinya.

“Kurikulum pendidikan yang terjadi saat ini masih jauh dari kesempurnaan, seiring berganti penguasa, aspek pendidikan terkadang menjadi korban dengan berganti – gantinya kurikulum sehingga menyebabkan inkonsistensi pola pendidikan dan pendidikan sudah harus menempatkan aspek ukhrowi dan duniawi secara seimbang agar tercapai hasil didik yang berahlak,” katanya.

Sementara, Ustadz Maryono menyampaikan, dalam pola pendidikan, pesantren merupakan bentuk yang paling ideal, dimana berbagai pesantren dengan fokus yang berbeda – beda tetapi pendidikan moral adalah hal yang paling utama guna menghasilkan generasi yang berahlak mulia selayaknya teladan Umat Islam Nabi Muhammad SAW.

“Meski banyak tantangan yang dihadapi, tetapi tidak menghalangi proses pembinaan yang terus berjalan, baik itu tradisional hingga ke pesantren modern. Dalam beragama kita sebagai umat muslimpun harus menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, sehingga aktualisasi ajaran Islam Rahmatan Lil alamin dapat terlihat nyata,” ucapnya.

Dalam sesi interaksi itu juga, mendapatkan atensi yang besar dari para audiens yang terdiri dari santri Al – Kautsar, pelajar dan mahasiswa yang sengaja diundang oleh panitia. Dalam dialog tersebut tercapai kesimpulan bahwa untuk kejayaan bangsa harus seiring sejalan dengan kemajuan umat beragama, keseimbangan pola pendidikan agama dan umum, pola pikir pemenang dan pemimpin, serta penguasaan masing – masing bidang diyakini mampu membawa bangsa ini lebih baik, sebagaima Rasulullah membangun kejayaan Islam dan Umatnya melalui teladan dan aksi nyata. (CAHYA SUMIRAT)

Alpian Tanjung

Read Previous

Susah Parkir, Omset Pedagang di Pasar Tanjungpinang Berkurang

Read Next

BC Tanjungpinang Amankan Sabu Senilai Rp7,4 Miliar