Anwar 20 Tahun Jualan Martabak Manis di Tanjungpinang

Tanjungpinang, IsuKepri.com – Pria yang memiliki empat orang anak, Anwar 55 tahun merupakan seorang pedagang martabak manis di simpang lampu merah Pamedan Tanjungpinang, tepatnya sebelah taman lampu merah itu. Meski usia Anwar sudah 55 tahun, namun hingga saat ini ia masih kuat berjualan martabak manis ala racikannya sendiri.

Bahkan, Anwar juga mengaku jika usaha itu sudah ditekuninya sejak 20 tahun silam di Kota Tanjungpinang ini. Saya memulai jualan martabak di simpang lampu merah ini sejak tahun 1993 dan hingga sekarang ini, ucap Anwar, Kamis (5/11).

Selama 20 tahun menjalani usaha maratabak tersebut, Anwar mengalami bermacam – macam suka dan duka. Serta melewati kemelutnya hidup dengan tuntutan ekonomi.

Kepada IsuKepri.com, Anwar menceritakan, awal mulanya berjualan di simpang lampu merah Pamedan tersebut. “Ya, saya jualan dari tahun 1993 disini, waktu itu taman sebelah ini belum ada, keadaan masyarakatpun masih sepi, belum ramai seperti saat ini,” ungkapnya.

Usaha martabak itu juga, dirintis Anwar dengan bermodal nekat dan keyakinan, serta terus menekuni berjualan Martabak Manis buatan tangannya sendiri hingga saat ini. Bahkan pemanggang martabak itu dulu dengan menggunakan loyang atau tempat cetakan martabak yang kecil hingga yang besar, dan hal itu semua dilakukan Anwar untuk mendapatkan untung dari hasil jualan Martabak Manisnya, dan dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Ya dulu, pertama jualan saya menggunakan loyang kecil, waktu pertama jualan untuk Martabak Manis loyang kecil dijual seharga Rp500, itu pada tahun 1993 lalu,” ujarnya, sambil menampakan mimik wajah mengingat kembali memory yang telah dijalaninya selama 20 Tahun.

Anwar kembali menceritakan kemelut yang dihadapinya selama berjualan martabak. Dengan sedikit mengeluarkan senyum sekali – sekali diwajahnya, Anwar mengatakan, perjalanan menjual martabak manis pada tahun 1995, ia menemui titik perubahan, dikarenakan pasar telah mempunyai loyang cetakan besar untuk menjual martabak manis dimasa itu.

“Pada tahun 1995, saya sudah berjualan martabak besar dengan berbagai rasa, seperti rasa kacang coklat, coklat, pulut hitam, keju dan kelapa, dan semua harganya Rp5000 kecuali rasa keju. Kalau martabak rasa keju harganya Rp7000, karena keju masa itu susah dicari dipasaran,” katanya dengan tatapan yang penuh perjuangan saat harus mengungkapkan kenangan yang pernah terjadi saat berjualan martabak manis.

Saat era Reformasi di Indonesia yakni tahun 1998, Anwar ikut merasakan pahitnya berjualan pada masa itu, disebabkan semua kebutuhaan Sembilan Bahan Pokok (Sembako) melambung tinggi. Ia mengatakan, krisis moneter mengkibatkan kenaikan semua kebutuhan, termasuk martabak yang dijualnya mengalami kenaikan harga.

“Pada tahun 1998, naik menjadi Rp7000, dan terus melonjak ke Rp10 ribu harga martabak yang saya jual,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, semua itu harus dilakukannya untuk tuntutan hidup yang mencukupi di era reformasi. “Ya, kalau tidak dinaikan harga martabak ini, gimana mau makan keluarga saya,” ucapnya.

Meski demikian, saat ini keluh kesah hidupnya telah beransur membaik, Ayah empat anak ini berhasil menjadikan, anak keduanya sarjana dan anak keempatnya pasca sarjana di Universita Riau (UNRI) Kota Pekanbaru dari hasil jerih payahnya menjual martabak manis tersebut. Karena, bagi Anwar, pendidikan itu sangat berguna untuk kelangsungan kehidupan anak – anaknya kelak.

“Anak saya ada empat, pertama cewek sudah nikah dan ikut suaminya, kedua cowok udah sarjana dan bekerja di salah satu instansi pemerintahan, ketiga cewek ikut suaminya, dan keempat cowok lagi dan masih kuliah di UNRI, itupun dapat beasiswa kemarin, serta dibantu juga dengan biaya dari hasil jualan martabak saya dan abang dan kakaknya,” kata Anwar.

Sementara, hingga saat ini, Anwar masih berjualan, tentunya dengan harga martabak manis yang dijual Anwar cukup bervariasi mengikuti pertumbuhan ekonomi zaman sekarang.

“Ya, semua sekarang kecuali keju harganya Rp13 ribu, kalau campuran semua bisa Rp20 ribu, untuk martabak isi keju sekarang Rp17 ribu,” ujarnya. (RON)

Alpian Tanjung

Read Previous

Warga Gotong Royong Padamkan Api di Pelantar KUD

Read Next

Warga Km 20 Kijang Minta Gang di Paving Block