• September 29, 2020

Untung Buntung Beroperasinya Blue Bird di Batam

Beroperasinya taksi Blue Bird di Kota Batam menguntungkan masyarakat sebagai konsumen. Karena memiliki pilihan untuk mendapatkan pelayanan jasa transportasi yang lebih baik, murah, aman dan nyaman di Kota Batam.

 

BATAM, IsuKepri.Com — Sejak kehadirannya di Kota Batam, pertengahan Juli 2012 lalu, taksi Blue Bird terus menuai pro dan kontra di masyarakat. Ada yang berpendapat, banyak pihak yang diuntungkan dari beroperasinya taksi Blue Bird. Namun tak sedikit juga yang mengaku buntung dengan beroperasinya taksi Blue Bird.

Menurut mereka yang merasa beroperasinya taksi Blue Bird membawa keuntungan berpendapat, masyarakat sebagai konsumenlah yang akan mendapatkan keuntungan. Karena memiliki pilihan untuk mendapatkan pelayanan jasa transportasi yang lebih baik, murah, aman dan nyaman di Kota Batam. Jasa transportasi yang sulit mereka dapatkan selama ini.

“Jika selama ini banyak warga yang enggan menggunakan jasa taksi, dengan hadirnya taksi Blue Bird mereka akan memiliki pilihan yang lebih baik. Kehadiran taksi Blue Bird di Kota Batam akan berpotensi menciptakan pasar baru, terutama kalangan menengah ke atas,” ungkap Ahmad, salah seorang warga yang mendukung beroperasinya taksi Blue Bird di Kota Batam, Senin (5/11/2012).

Ahmad berpendapat kehadiran taksi Blue Bird yang hanya 50 unit tidak akan berdampak besar dengan keberadaan taksi konvensional yang jumlahnya sekitar 2.700 taksi. Bahkan taksi konvensional bisa tetap beroperasi sambil berbenah dalam pelayanan, menyesuaikan standar taksi Blue Bird.

Begitupun dengan target pasar, taksi Blue Bird tidak akan mungkin mengambil pasar tradisional yang selama ini dimiliki taksi konvensional. Dan tidak akan mungkin mengambil penumpang keroyokan, sebagaimana dilakukan taksi konvensional selama ini. Taksi Blue Bird bisa dikategorikan sebagai taksi wisata, on call dengan segmentasi pasar menengah ke atas.

Dengan segmentasi pasar menengah ke atas, petani taksi (taksi konvensional) bukanlah level saingan taksi Blue Bird. Saingan sebenarnya bagi Blue Bird adalah perusahaan taksi sejenis, Silver Cab yang juga pernah ditolak kehadirannya di Kota Batam oleh taksi konvensional.

Pembenahan pelayanan taksi konvensional, telah beberapa kali digulirkan Walikota Batam, Ahmad Dahlan. Namun hingga saat ini, belum terlihat pembenahan pelayanan yang lebih baik yang dilakukan taksi konvensional. Yang terjadi justru malas berbenah, mau cari gampang dan mudah tersinggung saat pesaing masuk.

“Tidak ada salahnya taksi Blue Bird beroperasi di Batam. Biarlah masyarakat sebagai konsumen yang akan memilih, mana yang terbaik bagi mereka,” tegasnya.

Berbeda dengan Ahmad, Rizal dari pihak yang menolak kehadiran taksi Blue Bird memiliki pendapat sendiri. Menurut Rizal, sistem pertaksian di Kota Batam sudah salah urus sejak awal. Berbagai kepentingan terlalu kuat, sehingga menyebabkan sistem menjadi amburadul.

Kelemahan pemerintah adalah dengan membiarkan semuai kepentingan ini berjalan seiring. Bahkan pemerintah secara oknum juga ikut bermain di dalamnya. Akhirnya, terjadilah benang kusut yang membuat wajah Batam semakin bopeng.

“Jika mau berbenah janganlah menambah “kepentingan baru” di Batam. Masalah taksi Blue Bird bukanlah soal investasi, tetapi kepentingan,” katanya.

Untuk itu, pemerintah dan pihak terkait harus kembali duduk bersama untuk mengurai benang kusut pertaksian di Batam. Pemerintah perlu turun ke bawah untuk mendengar lebih banyak permasalahan pertaksian di Kota Batam, agar keputusan yang diambil tidak menambah ruwet.

Penolakan atas hadirnya taksi Blue Bird di Kota Batam juga dinyatakan salah seorang pengurus LSM di Kota Batam. Menurutnya, taksi Batam sejak awal Batam berdiri telah memberikan kontribusi bagi pembangunan Batam, baik secara individu maupun kelompok. Mereka telah memancangkan tiang dasar pertransportasian di Batam hingga membentuk koperasi sebagai wadah resmi yang diatur pemerintah.

Namun selama ini, pemerintah tutup mata atas pembinaan bagi pertaksian di Kota Batam di bawah naungan koperasi tersebut. Padahal seharusnya, sebagai petani atau pedagang kaki limanya transportasi, pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan agar pertaksian di Batam lebih profesional.

Tidak hanya saat masuk dan mau beroperasinya taksi Blue Bird saja permasalahan pertaksian di Kota Batam bergulir. Bahkan waktu taksi berargo Silver Cab mulai beroperasi, gejolak berupa penolakan hingga aksi demo juga terjadi.

Menyikapi beroperasinya taksi berargo Silver Cab, manajemen Silver Cab sepakat hanya akan mengoperasikan 20 unit armada taksi di Kota Batam. Kesepakatan itu ditandatangani di depan pengurus pertaksian di Batam dan Walikota Batam. Tapi saat ini, secara diam-diam Silver Cab menambah armadanya tanpa tindakan dan sangsi apapun dari pemerintah.

Selain itu, dalam kesepakatan yang diambil, Walikota Batam juga berjanji untuk membuat kelompok kerja (Pokja) yang bertugas melakukan pembinaan pertaksian di Kota Batam. Dengan jangka waktu selama setahun, pokja sudah harus menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya.

Kenyataannya, hingga sekarang pokja tidak pernah terbentuk dan pengingkaran yang dilakukan Silver Cab terjadi akibat adanya pembiaran dari pemerintah. Dan sekarang muncul lagi taksi Blue Bird, mengulang permasalahan yang sama yang dilakukan Walikota dengan melakukan pembodohan atas petani transportasi di Kota Batam. (sec)

0 Reviews

Write a Review

iwan

Read Previous

Lagi, Jamaah Haji Inhil Wafat di Tanah Suci

Read Next

HMI Riau-Kepri Fokuskan Program Kawasan Perbatasan