• September 25, 2020

Euforia Ramadhan, Lebaran, dan Pernak-Perniknya

Datangnya bulan Ramadhan tentunya memberikan keberkahan tersendiri bagi setiap orang. ramadan datang menyapa dengan penuh kehangatan dan kegembiraan. Sehingga segala aktifitas kebaikan yang dilakukan bernilai pahala yang berlipat ganda disisi Allah SWT, tak heran jika semua manusia berlomba-lomba untuk meraihnya. Kegembiraan yang kita maknai tentunya berbeda dengan kegembiraan anak-anak yang orientasinya adalah bermain.

Bulan Ramadhan sangatlah istimewa bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, hal itu bisa dilihat dari bagaimana antusiasnya masyarakat Indonesia dalam menyambut bulan tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang tidak pernah dilakukan dibulan-bulan yang lain.Tradisi dan budaya di Indonesia ketika bulan Ramadhan sangat banyak dan berfariatif, itu yang menbuat bulan Ramadhan di Indonesia berbeda dengan negara-negara yang lain, meski setiap negara mempunyai tradisi atau kebiasaan berbeda-beda dalam menyambut bulan Ramadhan, tetaplah negara Indonesia mempunyai cara yang paling unik dalam menyambut bulan tersebut.

Ramadhan Memang Bulannya Berbagi
Kalau ada yang mengatakan bulan Ramadhan jadi bulan paling boros tentu “tidak juga”. Kita justru berterimakasih kepada ajaran Islam dengan adanya bulan Ramadhan ini. bulan Ramadhan ini bulan terbaik yang pernah ada, bulan yang mampu membuat semua warga tersenyum, bulan dimana orang mampu menahan amarahnya, bulan dimana orang yang kaya mau secara besar – besaran membantu orang yang kurang mampu, bulan dimana justru rakyat bisa dekat dan bertegur sapa dengan pemimpinnya, bulan dimana orang saling nasehat menasehati satu sama lain, bulan dimana orang beramai-ramai berkunjung ke masjid serta bulan yang memberikan berkah kepada penjual makanan bukaan dadakan.

Konsumerisme Selama Ramadhan dan Lebaran
Konsumerisme berarti prinsip atau pandangan yang ingin memenuhi kebutuhan hidup dengan mengorbankan atau menggunakan sumber daya tertentu. Antara tradisi dan konsumerisme memang sulit untuk dibedakan, karena keduanya dipisahkan benang tipis. Konsumerisme yang terjadi biasanya menyangkut makanan, kebutuhan pakaian, dan kebutuhan moda transportasi mudik.
Ramadhan dan lebaran identik dengan kesucian. Lantas sebagian besar masyarakan Indonesia mengidentifikasikan kesucian sebagai kebersihan hati dan jasmani. Kebersihan hati dilakukan dengan menjaga hubungan baik dengan Tuhan dan manusia lewat silaturahmi. Kebersihan jasmani bisa dicapai salah satunya dengan menggunakan pakaian yang bersih dan suci yang identik dengan pakaian baru.

Masyarakat Indonesia memang merasa kurang afdhol jika selama lebaran tidak menggunakan baju baru. Anggapan itu mendorong masyarakat untuk melakukan purchasing transaction atas kebutuhan sandang. Coba kita amati, berapa banyak mall atau pasar yang kekurangan pembeli (terutama toko-toko pakaian) selama Ramadhan? Jawabannya adalah jarang atau bahkan tidak ada sama sekali. Terkait dengan kebutuhan moda transportasi, maka kebiasaan mudik yang identik dengan arus manusia dari pusat-pusat kota kembali ke lingkungan rural telah menjadi fenomena tahunan.

Seringkali konsumerisme yang pada momen-momen tertentu dilakukan untuk melestarikan tradisi, justru membawa permasalahan baru. Dampak konsumerisme tersebut misalnya terkait dengan tingkat harga dan gejala latah sosial. Dalam teori makroekonomi, peningkatan konsumsi masyarakat yang lebih besar dibandingkan dengan kapasitas produsen dalam menyediakan komoditas pemenuhan kebutuhan tersebut, akan mendorong kenaikan tingkat harga. Hal yang lebih parah yang mungkin terjadi adalah jika masyarakat tidak menerima symetric information secara lengkap terkait dengan jenis, kapasitas, kualitas serta tingkat harga wajar yang seharusnya ada di pasar. Hal itu akan mendorong produsen atau penjual bisa menaikkan harga dengan leluasa. Walaupun sejatinya harga dibentuk melalui mekanisme pasar yakni kekuatan tawar menawar antara penjual dan pembeli. Hal tersebut sangat sering dijumpai untuk para produsen atau penjual swasta.

Tradisi Selama Ramadan
Minimal ada tiga hal tradisi yang hampir tak pernah terlewatkan selama Ramadan. Tradisi yang pertama adalah Menggelar buka bersama baik bersama kelurga,teman sejawat, teman kantor, anak yatim dan lain sebagainya. Ini merupakan hal yang sangat positif tentunya karena disamping sebagai ajang kumpul juga sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi antar sesame yang hadir. Disamping itu juga melatih kita untuk senantiasa berbagi.

Tradisi yang kedua adalah berburu lauk pauk menjelang Buka. Ditengah tengah kesibukan sebagai pekerja tak bisa di elakkan makanan cepat saji ataupun makanan yang dijual dijalan-jalan menjadi alternatif jitu. disamping banyak pilihan sesuai selera selain itu harganya juga realtif terjangkau.

Tradisi yang ketiga adalah Bazar Ramadan. Biasanya hampir disetiap daerah memiliki bazar ramadhan yang terletak ditengah tengah keramaian. Bazar ini keberadaannya ada yang difasilitasi oleh pemerintah daerah ataupun merupakan inisiatif dari para pedagang untuk mengadakannya. Hadirnya Bazar menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat karena produk dan harga yang ditawarkan bervariasi. Dari segi kualitas pun tidak kalah dengan barang yang dijual ditoko-toko ataupun pusat perbelanjaan. Tentunya masih banyak tradisi-tradisi lainnya yang ada dimasayarakat. Apapun tradisiny yang terpenting ketika Takbir Menggema kita mampu kembali bersih suci dari segala dosa dan harapannya kita mampu mendapatkan gelar Taqwa.

 

Ivan Irifandi
Ketua Departemen Kaderisasi & Binsat PD KAMMI KEPRI
Dan Anggota Gerakan KEPRI Gemar Menulis (GKGM)

0 Reviews

Write a Review

Redaksi

Read Previous

Resmi : Robin Van Persie ke Manchester United

Read Next

FKHB Tancapkan Merah Putih di 1.000 Titik