• September 24, 2020

UN SDLB, Terkendala Kosa Kata

BATAM — Pemandangan bersih dan suasana nyaman terasa saat memasuki Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Kartini, Senin (7/5/2012). Sekolah ini terletak di belakang megahnya hotel Planet Holiday, Komplek Sumber Agung, Sei Jodoh.

Di sejumlah ruangan kelas di lantai 1, terlihat aktifitas belajar dan kegiatan lainnya yang melibatkan guru dan murid. Berbeda dengan ruangan-ruangan kelas di lantai 2 yang dua diantaranya digunakan sebagai ruang pelaksanaan ujian nasional (UN) dan ujian akhir sekolah (UAS), terlihat lengang.

Di salah satu ruangan yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan UN, terdapat 7 murid SDLB Kartini yang terlihat serius sedang mengerjakan soal-soal UN. Mereka adalah Agustian, Antoni, Rafi, Hendi, Dwi, Hafifah dan Ariyanti yang tergolong siswa berkemampuan khusus, penyandang tuna rungu. Anak tuna rungu merupakan anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya, sehingga mengalami gangguan berkomunikasi secara verbal.

Hari itu, ke 7 murid SDLB Kartini ini tengah berupaya menyelesaikan mengerjakan soal Bahasa Indonesia, mata pelajaran di UN hari pertama. Salah satu mata pelajaran yang termasuk membutuhkan pemahaman yang tepat bagi murid tuna rungu yang identik dengan minim kosa kata.

Wali Kelas 2 dan 3 SDLB Kartini, Lastri mengungkapkan, kendala yang dikhawatirkan dapat menghambat soal-soal UN tidak terjawab dengan baik oleh siswa adalah ketidakmampuan siswa dalam memahami kata-kata tertentu. Sehingga kalau kata-kata tidak mampu dipahami, dipastikan siswa akan susah menjawab soal-soal.

“Kendala bagi anak tuna rungu adalah minimnya kosa kata. Sehingga terkadang mereka tidak bisa memahami kata-kata tertentu dalam (UN),” ungkapnya.

Kosa kata ini, jelas Lastri, tidak hanya terdapat dalam soal-soal Bahasa Indonesia. Namun juga terdapat dalam mata pelajaran Matematika yang akan diujikan pada Selasa (8/5) maupun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang akan diujikan pada Rabu (9/5).

Sebagai contoh kosa kata dalam matematika adalah soal berhitung yang diwujudkan dalam bentuk cerita. Bukan langsung dalam bentuk angka-angka dengan tanda-tanda operasi hitung.

Namun meski terkendala dengan minimnya kosa kata, Lastri optimis para murid SDLB Kartini mampu mengerjakan seluruh soal UN dengan baik. Mengingat pihak sekolah telah melakukan pemantapan dengan matang sebelum pelaksanaan UN.

“Sebelum UN, kita sudah melakukan pemantapan, seperti pembahasan soal-soal tahun sebelumnya dan pemahaman kosa kata,” ujarnya.

Sama dengan pelaksanaan UN di sekolah lainnya, tidak banyak perbedaan dalam penyelenggaraan UN di SDLB Kartini. Sebanyak 7 murid SDLB Kartini yang sedang mengikuti UN dalam satu ruangan berukuran sekitar 4×5 meter tersebut juga diawasi dua orang pengawas silang. Begitupun dengan soal-soal yang diujikan, sama dengan soal UN SD umum. Hanya tingkat kesulitannya yang sedikit berbeda.

Dalam ruangan yang berada di samping ruang guru dan pengawas UN, ke 7 murid yang terdiri atas 4 siswa dan 3 siswi ini juga terlihat seperti murid di SD umum. Terlihat percaya diri dan tidak canggung, meskipun sering didatangi berbagai pihak yang belum pernah dikenal sebelumnya.

“Mereka sudah terbiasa, tidak terpengaruh dengan orang-orang yang sedang melihatnya. Tetap konsentrasi menjawab soal-soal UN,” ujar Lastri.

Sementara itu, di satu ruang lainnya, juga terdapat murid SDLB Kartini yang sedang mengerjakan soal-soal ujian. Bedanya, soal yang dikerjakan ke 5 anak tuna grahita ini adalah soal ujian akhir sekolah (UAS) yang soalnya dibuat sendiri oleh pihak sekolah. Penyandang tuna grahita adalah mereka yang memiliki lemah fikiran ataupun keterbelakangan mental.

Untuk kelas tuna grahita yang ujian dalam satu ruang kelas SDLB-C, terdiri atas 3 siswi dan 2 siswa. Terdapat 10 mata pelajaran yang diujikan dalam UAS ini yang akan berlngsung hingga Jumat (11/5) dengan masing-masing 2 pelajaran setiap harinya. Mata pelajaran Pendidikan Agama dan PPKKN atau IPS merupakan mata pelajaran hari pertama UAS.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, Muslim Bidin menyatakan tidak ada kekhususan dalam soal-soal UN, baik SD umum maupun SDLB. Soal bagi anak berkemampuan khusus memiliki jenis yang sama, hanya tingkat kesulitannya yang berbeda.

“Untuk UN tingkat SDLB, jenis soal sama dengan sekolah umum. Hanya tingkat kesulitannya yang berbeda,” ujarnya saat mendampingi Walikota Batam, Ahmad Dahlan meninjau pelaksanaan UN tingkat SD di SD Al Azhar Baloi dan SD Harapan Utama Batam Centre. (eki)

0 Reviews

Write a Review

iwan

Read Previous

Mindo Dituntut Seumur Hidup

Read Next

10 Kg Ganja diamankan Polresta Tanjungpinang