• September 18, 2020

Tertib Lalu Lintas Belum Jadi Budaya

BATAM, IsuKepri.Com — Kesadaran masyarakat untuk tertib berlalu lintas di jalan raya belum menjadi budaya. Ini menyebabkan masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Provinsi Kepri dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Kabag Bin Ops Ditlantas Polda Kepri, AKBP Andri menyebutkan, saat ini pembangunan di Kota Batam dan Provinsi Kepri sangat pesat. Sehingga banyak permasalahan yang timbul, salah satunya terkait keselamatan lalu lintas di jalan raya.

Berdasarkan data Ditlantas Polda Kepri, terdapat sebanyak 265 jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas selama 2010. Jumlah ini meningkat menjadi 368 kejadian pada 2011.

“Dari jumlah ini, sekitar 14 persennya meninggal dunia dengan kerugian materiil naik sekitar 72 persen dari Rp4,3 miliar menjadi Rp9 miliar,” ungkapnya dalam dialog publik bertemakan “Sinergi Kegiatan Pencegahan Kecelakaan Melalui Program Kemitraan” di Hotel PIH Batam Centre, Rabu (30/5/2012).

Sementara prediksi fatalitas (kejadian yang menyebabkan kematian) secara nasional, terdapat sebanyak 32.192 fatalitas pada 2010. Dimana pada tahun ini, populasi penduduk di Indonesia mencapai sekitar 237 juta dengan jumlah kendaraan sekitar 50 juta.

Pada 2011, terjadi kenaikan fatalitas hingga 32.687 orang. Para tahun ini, diperkirakan populasi penduduk di Indonesia mencapai 237,5 juta dengan jumlah kendaraan sebanyak 52,5 juta. Sedangkan pada 2012, angka fatalitas diprediksi 33.189 dengan jumlah kendaraan diprediksi 55,1 juta dan jumlah penduduk mencapai 238 juta.

“Saat ini sudah terjadi pergeseran paradigma, tertib berlalu lintas sudah menjadi urat nadi kehidupan dan cermin budaya bangsa. Tidak lagi hanya sebatas pergerakan orang dan barang,” katanya.

Menurut Andri, kecelakaan lalu lintas menjadi penyakit tidak menular tertinggi yang menyebabkan kematian. Pada 2010, kecelakaan lalu lintas merupakan peringkat ke-5 setelah stroke, jantung, paru-paru dan ISPA yang menyebabkan kematian.

Kepala Cabang Jasa Raharja Provinsi Kepri, Isman Danial menyebutkan, tingginya angka kecelakaan lalu lintas banyak mengorbankan penduduk berusia produktif antara 15-50 tahun. Meskipun ada santunan dari Jasa Raharja, namun itu sangat kecil jika dibandingkan dengan dampak kecelakaan yang diderita.

“Inilah yang sangat memprihatinkan. Alangkah baiknya jika tidak ada santunan, sehingga uang santunan bisa dikembalikan ke pemerintah untuk membantu pembangunan,” katanya kepada IsuKepri.Com. (eki)

0 Reviews

Write a Review

iwan

Read Previous

10 Lokasi Tambang Pasir Ilegal Ditertibkan

Read Next

Input Data e-KTP Ditargetkan Selesai Akhir September